Liburan Dokter Muda

Posted: January 15, 2012 in Life Story

    Kali ini saya akan memposting tentang kegiatan liburan saya selama 2 minggu di masa Dokter Muda / koass,terhitung dari tanggal 9-23 Oktober 2011. Mengapa sampai saya posting topik ini? Karena selama 1,5 tahun menjadi DM (Dokter Muda),hanya dapat jatah libur 2 minggu,sehingga momen ini sangat sayang jika tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jatah libur kelompok saya selesai setelah stase Radiologi, yang notabenenya adalah stase minor,sehingga khawatirnya bakalan terlena terus nih,padahal setelah liburan bakal memasuki stase mayor,yaitu Interna yang sistem jaganya tergolong cukup berat,seminggu 3-4x jaga. Tapi kodratnya juga manusia,ada rejeki liburan,ya lupakan sejenak masalah perkoassan, saatnya liburan !!!! Baiklah,saya ajak ke aktivitas saya kala itu :

  1. Mall Taman Anggrek

    Bersama rekan saya Rahmat Hariyanto, Arina Kartika,Nike Dewi, dan Dyatiara Devy, kami berusaha menggoyang Jakarta, tempat pertama yang dikunjungi adalah Mall Taman Anggrek. Saya sudah mengenal Mall ini sejak SD dulu, karena dulu sudah beberapa kali diajak ke sini. Yang khas dari mall ini adalah wahana ice skatingnya yang merupakan wahana ice skating pertama di mall seluruh Indonesia (waktu saya kecil sudah ada). Mall ini terletak di Jakarta Barat. Saat pertama kali dibuka tahun 1996, kita warga Indonesia patut bangga karena pada saat itu, mall ini adalah pusat perbelanjaan terbesar se Asia Tenggara. Info lebih lengkapnya, monggo ke TKP Gan http://www.taman-anggrek-mall.com/index1.php

     

     

     

     

  2. Es Krim Ragusa, Es Italia

     

    Pemberhentian selanjutnya adalah salah satu tempat makan es krim terkenal di Jakarta, yaitu es krim Ragusa, es Italia, berdiri sejak 1932. Bertempat di Jl. Veteran I no.10, Jakarta Pusat, tepat di sebelah Masjid Istiqlal. Es krim Ragusa ini adalah es krim buatan sendiri (home made) dan tanpa bahan pengawet. Resep dan cara pembuatan es krim ini langsung dibawa oleh pemilik awal Cafe Ragusa yang berasal dari Italia. Banyak sekali aneka rasa di dalamnya, mulai dari susu, buah-buahan dan pelengkap lainnya di pilih bahan yang baik sehingga menjadikan es krim Ragusa memiliki cita rasa tersendiri. Range harga mulai dari 9.000-30.000. Selain menikmati es krim ini, kita juga bisa memesan makanan lain yang di jual di depan rumah es krim ini seperti otak otak, sate atau empek empek yang dijual di sampingnya. Selain itu kadang ada juga pengamen bersuara merdu yang melantunkan tembang tembang tempo dulu,mantap deh. Penasaran ? Ayo datang dan nikmatilah….

     

     

     

  3. Factory Outlet Jl. RE Martadinata, Bandung

     

    Hari berganti hari, selanjutnya saya,Nike,Rahmat,Arina,Devy, dan Akbar keluar dari kota Jakarta, yaitu kota Kembang, Bnadung. Berhubung kami bareng para ibu-ibu (upss…no offense), maka terpaksa deh menemani mereka ke kawasan factory outlet di Bandung. Bandung terkenal dengan banyaknya factory outlet. 3 kawasan utama factory outlet adalah jl. RE Martadinata, Jl. Setiabudhi, dan Jl. Dago. Nah,kunjungan kali ini kami berhenti tuk mengitari FO-FO di Jl. RE Martadinata. Salah satu factory outlet terkenal dan tertua adalah factory outlet “Heritage” di jl. RE Martadinata, dapat dilihat dari bangunannya, luas dan khas bangunan jaman baheula, artistik deh pokoknya. Nah tak lupa juga,bagi saya,kurang rasanya ke Bandung kalau gak coba Es Duren,hehe…banyak              banget penjual-penjualnya di jalan-jalan, apalagi di sekitar factory outlet ini.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  4. Cafe Madtari

     

    Capek muter-muter factory outlet, langsung tancap gas ke tempat jajanan makanan terkenal di Bandung, apalagi kalau bukan Cafe Madtari. Cafe ini ramai banget dikunjungi, apalagi kalau tengah malam, tempat nongkrongnya para mahasiswa Bandung, buka 24 jam. Cafe ini menyajikan segala macam makanan yang bisa disajikan dengan keju,menu utama adalah roti bakar, pisang bakar, sampai Indomie Keju. Yang saya lihat, cafe ini tergolong murah hati, mengapa demikian ? karena gak pelit menyajikan keju dan coklat di menu makanannya,banyak banget, malah kelihatan tumpukan keju. Kalau menu mie instan tinggal pilih, mau dikasih telur, keju, atau kornet sesuai selera. Yahud deh rasanya. Harga makanan bervariasi antara 4-15 ribu. Pusatnya adalah di samping Taman Flexi, Jl. Rangga Gading no.12. Cafe ini sekarang mempunyai 3 cabang, yaitu di Jl. Teuku Umar no. 1, Jl. Surapati no. 72, dan Jl. Dr. Otten no. 11. Penasaran dengan cita rasa kafe ini ? ayo datang dan nikmatilah ! Two thumbs up deh pokoknya b^^d

     

     

  5. Maja House

    Hari berganti malam,sebelum ke Villanya Nike Dewi Anggraini, ke arah Lembang, kami singgah di suatu bangunan yang artistik dan futuristik lah bahasa kerennya,tempat yang pas buat foto-foto,apalagi kalau bukan Restoran Maja House. Selain terkenal akan setting bangunannya,restoran ini menyatu dengan alam (pemandangannya) karena letaknya ke arah puncak. Terlihat indah, apalagi kalau malam hari. Menu makanannya bervariasi, namun harganya agak kurang bersahabat,hehe,tapi terbayarlah dengan pemandangan dan nuansa tempat yang disajikan. Alamatnya ada di Jl. Sersan Bajuri no.72, Bandung.

     

     

     

     

     

     

     

     

  6. Lembang

     

    Kami tutup hari ini dengan menginap di villanya Nike, daerah Lembang. Berhubung Lembang adalah daerah di pegunungan,maka harus sedia jaket karena suhu yang dingin banget disana. Titik tertingginya ada di Gunung Tangkuban Perahu. Benar-benar terpuaskan menginap disini, karena disuguhkan oleh suasana alam yang begitu indah nan mempesona. Di Kecamatan Lembang ini banyak tempat wisata yang disajikan, antara lain Observatorium Bosscha, Gunung Tangkuban Perahu, Pemandian Maribaya dan lain-lain. Indah deh pokoknya,kalau lagi stress, diputus pacar dan lain sebagainya (hehe…),datang aja ke kecamatan ini,pemandangannya cukup menjadi psikoterapi buat anda #eeaaa

     

     

     

     

     

     

  7. Marina Bay Sands, Singapura

     

    Salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu adalah saat masa liburan ini, karena saya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk pergi ke negeri seberang, Singapura. Ini adalah kali pertama saya ke sana. Negaranya kecil,kalau berkeliling mungkin hanya sekitar 50 km. Namun, saya kagum akan tata letak,sarana transportasi, serta perkembangan negara ini. Saya berangkat dengan Ibu saya,alhamdulillah tidak ada kendala, mendarat di Changi Airport Singapore. Hanya 3 hari disana, jadi harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Marina Bay Sands. Bangunannya unik, kalau dilihat dari jauh,seperti membentuk kapal (terlihat jelas). Ini adalah bangunan hotel serta pusat perbelanjaan bertingkat 54 lantai. Hotel ini merupakan salah satu ikon industri pariwisata di Singapura. Apalagi adanya teras di lantai tertinggi yang sangat indah, Sands Sky Park. Hotel ini terkenal akan hiburan malamnya (saya tidak menyarankan lho),antara lain permainan dan perjudian kelas dunia, serta modern bar. Tak lupa, ternyata bertemu teman kelompok DM saya, Agung dan Ari Pratama di Singapore,hehe…capcus deh kita,,

     

  8. Merlion Park

     

     

    Setiap turis asing pasti bakal singgah di tempat ini untuk mengabadikan gambar di patung ikon negara Singapura, Merlion. Di sinilah simbol negara Singapura. Tempat ini merupakan salah satu tempat wisata utama Singapura yang harus dikunjungi oleh para turis mancanegara. Ada beberapa tempat wisata yang juga berdekatan dengan Merlion Park ini yaitu Esplanade, Asian Civilisations Museum, Raffles Landing Site, Singapore Flyer dan yang terbaru adalah Marina Bay Sands (di atas). Jelas ,yang terpuaskan dari tempat ini adalah bisa foto-foto dengan patung Merlion.

     

     

     

     

     

     

  9. Universal Studio

     

    Kalau Indonesia punya wahana hiburan indoor Trans Studio, Singapura juga tidak mau kalah,mereka mempunyai wahana yang baru dibangun 1 tahun yang lalu,apalagi kalau bukan Universal Studio. Tempat bermain ini terletak di Pulau Sentosa, sehingga untuk sampai ke sana harus naik MRT untuk menyeberang ke Pulau Sentosa. Ada 7 zona permainan di Universal Studio, masing-masing zona memiliki permainan unggulan. Karena itu kenali setiap zona dan wahana mana yang akan Anda masuki. Zona-zona tersebut antara lain Hollywood, New York, Sci-Fi City, Ancient Egypt, The Lost World, Far Far Away, dan Madagascar. Cari tahu juga jam-jam pertunjukan di beberapa wahana seperti Water World dan Pantages Hollywood Theater, maupun pentas-pentas di jalan. Berhubung saya belum pernah ke Trans Studio, saya belum bisa membandingkan dengan Indonesia, suasana hati akan terpuaskan lah pokoknya dengan bermain di Universal Studio Singapore.

     

  10. Jurong Bird Park

     

    Tempat wisata yang saya masuki selanjutnya adalah Jurong Bird Park. Ini adalah kawasan taman burung terbesar di seluruh dunia. Memang sangat luas,luar biasa lah pokoknya. Konsep taman ini didesain agar para pengunjung bisa berjalan-jalan mengeliling berbagai varian burung yang berasal dari Asia Tenggara, Afrika, Amerika Selatan dan Lory Loft. Saat ini ada 600 spesies burung menghuni taman burung terbesar di dunia ini.  Dan total jumlah burungnya sekitar 8000an. Jurong Bird Park ini adalah salah satu tempat wisata favorit para wisatawan mancanenagara dan lokal. Di Jurong Bird Park ini juga banyak atraksi-atraksi yang dimainkan oleh burung-burung peliharaan di sana, jadi perhatikan juga kapan jam atraksinya. Kalau capek jalan, disediakan transportasi MRT untuk berkeliling melihat pemandangan Jurong Bird Park ini.

     

     

     

    Yap, demikianlah perjalanan liburan DM saya kali ini, benar-benar berkesan,menjadi penyemangat sebelum memasuki hutan rimba di RSU Dr. Soetomo kembali. Tak lupa saya ucapkan terima kasih juga buat teman-teman Albatross NTU (Indra Purnama, Diah Ayu Istiqomah, dan Arif Fahla) yang sudah menyempatkan waktunya untuk silaturahmi,jangan bosan-bosan ya,boleh tuh saya diajak ke tempat makan lainnya,mumpung ehm…hehe,becanda friends.

Advertisements

The History Of Palmaris Longor

Posted: July 17, 2011 in Life Story

    Suatu ketika,teman saya, Reyner V. Tumbelaka mendatangi saya dan beberapa teman saya di kelas (FK UNAIR PD 2007).

Reyner : “Eh Pals,dah tahu belum kalau Dekan Cup tahun ini beda ? Ada lomba baru,FK GOT TALENT!”

Saya : “Owh,So What Gitu Loch?”

Reyner : “Ayo kita tampil,menampilkan sesuatu yang beda,grup humor!”

Saya : “Mateng! Harga diriku bakal hancur lebur selebur-leburnya!”

Reyner ; “Ayolah,aku juga ngajak Ershad,Ambi,Rendra”

Itulah awal percakapan,saksi akan lahirnya sebuah harta peradaban dunia yang tak akan hilang oleh waktu (gak lebay gak eksis). Dengan ditambah Adhinanda Gema sebagai anggota,maka telah lahirlah orang-orang terpilih di muka bumi ini,menegakkan kebenaran serta keadilan dengan canda,tawa,dan senyuman sepanjang waktu. Sebuah Grup Humor FK UNAIR telah lahir,kami menyebut diri kami,PALMARIS LONGOR ! (noPAL-aMbi-rendrA-Reyner-eIrShad LONGOR !). Awalnya target kami hanyalah menjadi jawara di FK GOT TALENT 2010,namun apa di kata seiring berjalannya waktu, job mengalir dengan banyaknya (ciiieee,fiktif ini mah!).

    Penampilan pertama,mengambil cerita pengalaman hidup seorang Naufal yang menjabat sebagai Ketua BEM selama 50 tahun, dimana teman-teman sebayanya sudah menjadi dokter-dokter sukses (Kenapa saya mendapat peran sebagai Ketua BEM ?!?). Penampilan kedua,melanjutkan scene cerita penampilan pertama,di mana akhirnya sang Ketua BEM akhirnya lulus juga (fiuh,lagi-lagi dapat peran orang gak sukses T.T ). Malam final Dekan Cup, kami menampilkan parodi Be A Man (gambar di foto atas yang paling bawah,dimana banyak gambar bencis-bencis kabur dari pangkalan). Saat Malam keakraban ARTSEN 2007,kami juga tampil dengan parodi mengenang kembali Ospek untuk angkatan 2007. Setelah lama vakum,kami muncul lagi dengan menambah personil-personil baru (thx to Gotham, Zahruddin, Satriyo), menampilkan parodi “Dokter Muda Legendaris”. Yah, begitulah aksi kami, kami hanyalah manusia biasa,kami hanyalah para pemuda yang beranjak dewasa, kami hanyalah orang-orang yang sedang mencari jati diri di tengah keramaian yang tidak pasti,namun di balik itu semua,kami mempunyai mimpi,untuk menebarkan kegembiraan serta kebahagiaan untuk kalian semua, karena kami adalah………….PALMARIS LONGOR !!!

“karena hati yang gembira adalah obat…” (Patch Adams)

    Buku ini adalah salah satu dari sekian buku yang mulai menginspirasi saya tuk mengarungi kehidupan ini, buku ini saya beli saat Studium Generale SMA TN beberapa pekan silam, memang saya tergolong terlambat dalam membaca buku ini,karena telah diterbitkan pada saat peringatan 20 tahun SMA Taruna Nusantara pada 14 Juli 2010. Mendengar banyak sekali respon positif dari teman-teman,maupun adik-adik siswa (sekarang sudah mahasiswa) yang telah membacanya,saya jadi tertarik untuk membeli buku ini. Berawal sebagai refleksi 20 tahun SMA Taruna Nusantara,maka diterbitkanlah buku Bocah-Bocah Pirikan ini. Pirikan adalah nama desa di sekitar SMA Taruna Nusantara,Magelang. Sedangkan kata bocah-bocah dianalogikan sebagai para alimni siswa SMA Taruna Nusantara. Saya sudah mulai tersentuh saat membuka halaman awal buku ini,bagaimana tidak ? Memoar perjuangan saat saya menempuh pendidikan di sana dulu,sudah dimunculkan di halaman awal buku ini dengan dikutipkan teks “Tri Prasetya Siswa Perguruan Taman Taruna Nusantara”, naskah yang selalu dibacakan tiap upacara bendera dulu sebagai bukti janji serta komitmen siswa SMA TN untuk mengabdi kepada bangsa,negara,dan dunia suatu saat kelak.

    Sebagai pengantar,buku ini dibuka oleh Hj.Ani Bambang Yudhoyono,berisi tentang kumpulan kisah hidup para alumni yang notabenenya sudah sukses ataupun “lain daripada yang lain” dalam memberikan karya untuk bangsa ini. Ambil contoh, kisah tentang Bang Wicahyo Ratomo,TN 2,dulunya adalah lulusan terbaik SMA TN dan berprestasi sebagai Pelajar Teladan Tingkat Nasional. Mengenyam pendidikan di ITB dan University of Cambridge,saat ini beliau menjabat sebagai Executive Vice President. Bagaimana kisah-kisah beliau,dimulai dari perjuangan selama di SMA TN sampai implementasi serta aplikasi nilai-nilai yang didapatkan dari SMA TN sebagai kunci keberhasilan dalam dunia kerja,disuguhkan secara apik dalam buku ini. Ada lagi Bang Eddri Sumitra atau dikenal dengan nama pena E.S. ITO adalah salah satu penulis muda Indonesia. Ini adalah salah satu alumni yang menurut saya lain daripada yang lain, karena mengambil keputusan bekerja sebagai penulis, yang notabenenya jarang diminati oleh orang-orang,namun beliau berhasil membuktikan bahwa dengan bekerja sebagai penulis,Bang Ito sangat berjasa dalam memajukan bangsa ini, lewat sentuhan semangat dan visinya untuk membenahi Indonesia yang dituangkan dalam tulisan. Satu hal lain yang membuat buku ini spesial adalah di beberapa halaman terdapat kutipan-kutipan penjelasan tentang penjelasan “sesuatu” hal (Ompreng, RPS, Rumah Pamong, Kudapan dll) yang menjadi sesuatu yang menarik serta tak dapat dilupakan saat mengenyam pendidikan di Lembah Tidar dulu, sehingga muncul rasa kangen untuk kembali kepada masa SMA.

Masih banyak lagi Abang,Kakak,rekan serta adik yang menceritakan kisah hidupnya dimana mereka berpredikat sebagai alumni SMA Taruna Nusantara,Magelang (Bocah-Bocah Pirikan) sehingga secara tidak langsung,memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan sumpahnya saat memainkan peran sebagai pemimpin Indonesia di berbagai sektor di masa depan. Tidak hanya para alumni yang namanya tercantum dalam buku ini, tetapi juga para alumni lainnya (semua alumni) dan juga saya,harus memegang SATU komitmen di dada kita,yaitu bertekad memberikan karya yang lebih baik bagi masyarakat,bangsa, negara, dan dunia………..Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janji ini…………..

Setelah Sekian Lama…

Posted: January 14, 2011 in Life Story

Entah mengapa,setengah tahun lebih, blog ini tak terurus, entah karena amanah di kampus, berbagai kegiatan yang menyita waktu, ataukah karena kemalasan yang melanda diriku ini sampai-sampai tuk menulis saja,sulit rasanya. Ini mungkin salah satu gambaran ketidakkonsistenan seorang manusia, dari awal punya niat untuk membuat blog,malah terseok-seok dalam prosesnya. Apapun itu, buang masa lalu serta berbagai alasan yang muncul,tegakkan kembali nilai komitmen, bahwa dengan menulis, saya bisa melawan…bahwa dengan menulis,saya bisa menggugah…..dan bahwa dengan menulis, saya bisa mengubah..sembari menunggu ide maupun ilham yang datang tuk menulis kembali di blog ini, saya tegaskan bahwa blog ini akan terisi penuh kembali. Semoga bisa banyak membantu anda-anda sekalian, yang sedang menyelesaikan skripsinya,mencari bahan-bahan untuk tugas akademisnya,sedang gundah gulana sehingga perlu mencari tulisan yang dapat membangkitkan gelora semangat (bener ga ya? Mudah-mudahan..hehe…) dan lain-lain, jangan sungkan-sungkan membaca tulisan saya. Semoga bermanfaat !!!

Fenomena Dokter Asing di Indonesia

Posted: July 21, 2010 in Opini

Suatu hari saat sedang berlibur di rumah, saya disodorkan majalah “Halo Internis PAPDI” oleh Ibu saya, kepunyaan Paman saya. Karena memang pada dasarnya jalan hidup saya sudah terarah ke bidang kedokteran, jelas saya sangat antusias dalam membacanya. Tabloid ini disajikan sangat menarik, mulai dari gambar,artikel, layout dan lain sebagainya. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah kebetulan di edisi yang saya terima sedang menempatkan fenomena dokter asing di Indonesia sebagai artikel utama. Berawal dari situlah membuat saya tertarik untuk membahas fenomena ini untuk di publish di blog saya ini. Jaman sudah memasuki jaman globalisasi, waktu kecil dulu saya sangat ingat sekali, seperti di doktrin oleh Kakak Sepupu saya, bahwa jaman globalisasi itu nyari kerja gampang di luar negeri, tetapi tenaga kerja orang Indonesia bakal kalah saing dengan tenaga kerja luar, hal ini seakan-akan mendoktrin saya sampai-sampai membuat saya ngeri. Namun, ternyata tidak seperti yang dibayangkan atau memang belum sampai waktunya.

Cukup basa-basinya, saatnya fokus kepada pembahasan dokter asing ini. Salah satu tantangan globalisasi yang harus diterima dalam dunia kedokteran ini adalah Negara kita pasti akan dimasuki oleh tenaga dokter asing. Namun, banyak hal yang menjadi kontra akan kenyataan ini. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) mengakui sampai saat ini belum pernah mengeluarkan Surat Tanda Registrasi (STR) kepada dokter asing yang melakukan praktik kedokteran. Kalau dilihat, hamper semua dokter asing yang ada bekerja di rumah sakit dan klinik berstatus swasta yamg membuat institusi tersebut bangga karena mereka menganggap dengan seperti itu, image yang muncul di kalangan masyarakat adalah rumah sakit tersebut berstatus kelas internasional. Keberadaan dokter asing ini bisa-bisa membuat dokter lokal tergusur. ” Ada banyak hal yang menjadi kendala bagi dokter asing untuk bekerja di Indonesia. Salah satunya adalah pemahaman akan social budaya Indonesia. Ilmu Kedokteran harus mempertimbangkan sisi sosial ekonomi pasien. Jadi hubungan antara dokter bukan hanya dari sisi komunikasi tapi juga dari pemahaman soal sikap”,ujar Prof.Samsuridjal selaku Dewan Penasihat PB PAPDI. Hal ini tidak bisa dicegah, karena tidak keseluruhan bersifat negative, sehingga salah satu hal yag dapat dilakukan untuk mengantisipasi kedatangan mereka adalah meningkatkan profesionalisme dokter di negeri sendiri.

Sebenarnya sudah ada syarat-syarat yang telah dipatenkan untuk praktik dokter asing, antara lain :

  1. Sertifikat kompetensi dari Negara asal.
  2. STR dari KKI sebagai bukti bahwa dokter asing telah memenuhi standar profesi kedokteran yang diakui institusi kedokteran Negara asal
  3. STR dari instansi yang berwenang di Negara asal.
  4. Fotokopi ijasah yang diakui dari Negara asal.
  5. Surat pernyataan abhwa telah mengucapkan sumpah atau janji profesi
  6. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari Negara asal
  7. Surat keterangan berkelakuan baik dari instansi Negara asal
  8. Surat Ijin Praktik dari Negara asal yang masih berlaku
  9. Surat pernyataan bersedia mematuhi peraturan perundang-undangan, sumpah profesi kesehatan, dan kode etik profesi kesehatan yang berlaku di Indonesia
  10. Mampu berbahasa Indonesia dengan baik yang dibuktikan dengan sertifikat bahasa Indonesia dari lembaga yang ditunjuk pemerintah

Namun yang menjadi sorotan adalah regulasi di Negara kita terkait dokter asing ini masih lemah. Undang-Undang No 29 tahun 2004 (UUPK) menjelaskan bahwa regulator praktik kedokteran di negeri ini adalah KKI,IDI, dan Depkes. Ketiga lembaga ini berwenang mengatur izin praktik dokter asing di Indonesia, termasuk dokter asing. Beginilah yang namanya globalisasi, berat memang, jika tidak segera kita persiapkan, bisa-bisa tertinggal, hal penting yang perlu dilakukan adalah meningkatkan profesionalisme terutama dalam hal mutu dan pelayanan dalam bekerja agar tidak kalah dengan tenaga kerja asing. Globalisasi ibarat tokoh Juggernaut atau Sabretooth dalam film X-Men, yang akan melindas dan menyingkirkan siapapun yang tak mampu ikut dan menyesuaikan diri, berhati-hatilah !

BBaru selesai menonton Hachiko: A dog story,film yang dibintangi oleh Richard Gere ini benar-benar luar biasa, menyentuh dan memberi banyak pelajaran kepada kita akan makna sebuah kesetiaan. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mengulas kisah asli dari anjing bernama Hachiko ini. Hachiko adalah seekor anjing jantan jenis Akita. Di negeri sakura, ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan hewan peliharaan terhadap majikan. Sebagai bentuk penghargaan akan rasa kehormatan penduduk Jepang, maka dibangunlah patung anjing ini di depan stasiun Shibuya Tokyo, karena memang merupakan ciri khas dari Hachiko yang tiap sore senantiasa menunggu majikannya pulang dari tempat kerjanya. Bahkan setelah majikannya meninggal pun, Hachiko terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang.

Anjing ini lahir pada tahun 1923, pemiliknya adalah keluarga Saito dari kota Odate. Namun pada akhirnya, Hachi kecil dipungut oleh keluarga Ueno. Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburo Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang. Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko di kawasan Nihonbashi, Tokyo. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa, Tokyo . Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga, Tokyo. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.
Pada musim gugur, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya, Tokyo yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya. Kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun Tokyo Asahi Shimbun dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari (“Kisah Anjing Tua yang Tercinta”). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.
Kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan),1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.
Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar dan Permaisuri
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu PengetahuanUeno, Tokyo.

 

Pada 8 Juli
1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō. Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken “Hachi Legenda Hachi si Anjing Akita”. Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog’s Story
– Maaf, untuk postingan ini masih banyak copy pastenya, masih mampet ide tuk mengeluarkan karya orisinil, tapi yang jelas tunggu postingan selanjutnya –

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Posted: May 6, 2010 in Opini

Pada tanggal 2 Mei kemarin, kita baru saja memperingati hari pendidikan nasional. Semua institusi pendidikan, mulai dari SD,SMP,SMA,maupun perguruan tinggi rela mengorbankan waktu paginya untuk berdiri di bawah terik matahari tuk memperingati hari pendidikan nasional ini. Idealnya, pengorbanan rela berjemur ini menggambarkan apresiasi tinggi kita akan kondisi pendidikan di bangsa ini. Namun, banyak hal yang perlu dievaluasi dari kondisi pendidikan bangsa kita saat ini. Banyak kelebihan yang bisa dibanggakan, namun banyak juga kekurangan yang perlu dievaluasi untuk diperbaiki. Bang sa ini memiliki tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh dalam kondisi kemajuan bangsa ini, yaitu Ki Hajar Dewantara. Perjuangan beliau dalam mendirikan system pendidikan Taman Siswa patut kita jadikan teladan, terutama peninggalan semboyan dalam sistem pendidikan beliau yang sangat dikenal sampai saat ini, yaitu ing ngarsa sing tulodho (di depan menjadi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), tut wuri handayani (dari belakang mendukung), namun segala macam dinamika pendidikan yang terjadi saat ini seakan-akan melunturkan makna dari semboyan tersebut.

Berdasarkan UU Sisdiknas, disebutkan bahwa APBN untuk pendidikan dianggarkan sebesar 20% dari APBN Negara, namun kondisi yang ada terlihat bahwa dana yang dianggarkan sedemikian besar itu tidak terdistribusikan dengan baik. Ambil contoh, masih banyak ditemukannya institusi pendidikan negeri yang sudah di plot oleh Negara untuk tidak memungut biaya pendidikan, namun masih saja memungut biaya yang besar sehingga menyusahkan masyarakat, terutama bagi yang kurang mampu. Salah satu hal yang menjadi bagian penting dari dunia pendidikan adalah guru. Kondisi kesejahteraan para pejuang mulia tersebut yang bertugas menghasilkan generasi-generasi cerdas untuk negeri ini masih kurang sehingga mengganggu konsentrasi guru untuk mengajar. Belum lagi kontroversi pelaksanaan Ujian Nasional. Kalau boleh saya evaluasi, sistem pendidikan yang ada saat ini belum bisa menghasilkan SDM yang mandiri, kreatif, kritis, berkarakter kuat, dan memiliki pengabdian bagi bangsanya karena standar kelulusan hanya dilihat dari nilai ujian semata.

Janganlah selalu mengkritik kondisi pendidikan yang ada saat ini, namun banyak hal dalam dunia pendidikan Indonesia yang patut kita banggakan dan acungi jempol. Indonesia tergolong Negara yang sangat sering menyumbangkan prestasi di tingkat internasional. Mulai dari Olimpiade mata pelajaran tingkat Internasional, International Youth Scientist, kompetisi robot antar mahasiswa dan lain-lain. Hal inilah yang mendongkrak jiwa nasionalisme saya dan juga anda untuk terus tumbuh dalam diri kita selaku bangsa Indonesia. Kita harus mempunyai niat sungguh-sungguh dalam pengelolaan pendidikan. Itulah sebabnya, kita harus berani membenahi pendidikan nasional kita sekarang juga. Semoga peringatan hardiknas ini bukan hanya menjadi ritual tahunan semata, namun menjadi potret perubahan akan buramnya pendidikan nasional kita. Jaya terus Indonesiaku !!!